Istigasah (ISW)

Istigasah Akbar di Kampus Lamooso, Awali Rangkaian Wisuda 2026

Yayasan.rawaaopakonsel.ac.id, Lamooso – Mengawali rangkaian prosesi Wisuda Tahun 2026, Kampus Lamooso menggelar Istigasah Akbar yang berlangsung khidmat pada Senin (8 Juni 2026). Lantunan doa dan zikir menggema di area kampus, menandai rasa syukur sekaligus kesiapan lembaga dalam melepas lulusan terbaiknya.

Acara religius ini menghadirkan ulama , AG Dr. KH Nur Taufiq Sanusi Baco, M.Ag., yang juga Sekretaris KOPERTAIS Wilayah VIII (Sulawesi, Maluku, dan Papua), dna juga Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum (Maros). Beliau memberikan taushiyah mendalam di hadapan seluruh civitas akademika, calon wisudawan, dan tamu undangan.

Dalam ceramah keagamaan tersebut, AG KH Nur Taufiq menekankan pentingnya mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kematangan spiritual. Ia mengingatkan para calon wisudawan agar ilmu yang diperoleh selama bangku kuliah dapat menjadi berkah dan bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat luas.

Di tempat yang sama, Dewan Pembina Yayasan dan Pendidikan Tinggi Al Asri Konawe Selatan, Al Asri, S.Pd.I., M.Si., turut memberikan pesan strategis terkait keberlangsungan institusi. Dewan Pembina menegaskan pentingnya menjaga dan memperkuat soliditas internal demi mempertahankan serta membesarkan lembaga pendidikan ini di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Pihak Dewan Pembina Yayasan mengingatkan bahwa kekuatan utama IAI Rawa Aopa Konawe Selatan terletak pada kebersamaan dan visi yang sejalan antara yayasan, pengelola, dan civitas akademika. Dengan soliditas yang kokoh, lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Al Asri Konawe Selatan ini diyakini akan terus melahirkan generasi unggul yang berkontribusi nyata bagi daerah dan bangsa.

Suasana haru dan penuh harapan menyelimuti penutupan istigasah, yang sekaligus menjadi ketukan palu pertama dari seluruh rangkaian seremonial kelulusan melalui kegiatan keagaamaan di Kampus Lamooso.

Abdimas (ISW)

Pengumuman Kegiatan Pengabdian Masyarakat 2025/2026

Binadesa.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta –

Bina Desa Indonesia menggelar pertemuan guna mengidentifikasi berbagai program Pengabdian Masyarakat Kolaboratif (Kamis, 12 Maret 2026), . Pertemuan yang berlangsung di Jakarta ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi mitra dengan tujuan memperkuat sinergi antara akademisi dan praktisi pemberdayaan masyarakat. 

Fokus utama diskusi ini adalah menyelaraskan visi untuk menciptakan dampak sosial yang lebih nyata dan berkelanjutan di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu poin krusial dalam pertemuan tersebut adalah rencana keterlibatan dalam agenda International Collaborative Community Development

Program berskala global ini diproyeksikan menjadi wadah bagi para akademisi dan aktivis desa untuk berbagi inovasi serta solusi atas tantangan pembangunan di tingkat akar rumput. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pengabdian masyarakat, tetapi juga memperluas jejaring profesional di kancah internasional.

Kegiatan kolaboratif tersebut nantinya akan dilaksanakan di Maros, Sulawesi Selatan, sebagai bagian integral dari rangkaian International Postgraduate Research Conference (IPRC). Pemilihan Maros sebagai lokasi pelaksanaan menjadi sangat strategis mengingat potensi dan posisi daerah tersebut dalam pengembangan komunitas lokal serta statusnya . 

Integrasi antara riset interdisipliner dan aksi lapangan ini bertujuan untuk memastikan bahwa teori-teori akademik dapat diimplementasikan secara langsung guna menjawab kebutuhan warga setempat.

Pelaksanaan agenda besar ini dijadwalkan berlangsung pada tanggal 27-28 April 2026. Melalui persiapan sejak pertemuan hari ini, Bina Desa Indonesia dan mitra perguruan tinggi optimis dapat menghadirkan program-program unggulan yang relevan dengan isu global terkini. Para peserta nantinya akan terlibat dalam berbagai forum diskusi, observasi lapangan, serta perumusan strategi pengabdian yang lebih inklusif bagi masyarakat Maros.

Dengan terlaksananya pertemuan identifikasi ini, Bina Desa Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam menjembatani dunia pendidikan dengan pembangunan desa. Langkah ini diharapkan mampu memicu semangat kolaborasi yang lebih luas antara universitas dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Ke depan, hasil dari konferensi di Sulawesi Selatan tersebut diharapkan menjadi cetak biru bagi model pengabdian masyarakat kolaboratif yang dapat direplikasi di daerah lain.